Badminton News

Publicado  Sabtu, 07 Juli 2012

Bulutangkis Nasional, Mental dan Sports Science
1
Headline
Ist
Oleh:Nopi Heryanto
Olahraga - Sabtu, 7 Juli 2012 | 15:48 WIB 
INILAH.COM, Kudus - Pelatihan di tiap-tiap klub maupun Pelatnas menjadi tonggak lahirnya generasi penerus bulutangkis yang siap bersaing di kancah internasional.
Sistem dan pelaksanaan pelatihan di Indonesia, dituturkan Fung Permadi, mantan atlet yang meraih masa keemasannya di era 1990-an, sangat bergantung pada fighting spirit atlet.
"Kalau soal fisik kita harus lebih meningkatkan fighting spirit. Selain itu, mindset atlet juga perlu diubah," ungkap Fung yang kini menjabat sebagai Manajer Tim PB Djarum.
Menurut Fung, sarana dan prasarana pelatihan di Indonesia sudah menerapkan standar yang sesuai. Kelengkapan alat juga dengan adanya fisioterapis asal Jepang, Indonesia tak kalah dengan negara lain.
"Kita lakukan pendekatan persuasif. Tanamkan bahwa atlet itu mindset-nya harus beda. Jangan badan yang mengendalikan otak, tapi sebaliknya," kata Fung.
Sedikit berbeda dengan Fung, di mata pengamat bulutangkis Broto Happy justru masih banyak yang perlu diperhatikan dari pelatihan atlet-atlet 'Merah Putih'.
"Bukan hanya fighting spirit, teknik dan hal lain pun turut jadi perhatian," kata Broto saat ditemui di sela-sela Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis Djarum yang diselenggarakan di GOR Jati Kudus, Jumat (6/7/12).
Jika dibandingkan Jepang, yang telah menerapkan sports science, lanjut Broto, Indonesia masih tertinggal. Alat pendukung latihan fisik yang digunakan masih biasa saja.
Menanggapi banyaknya keluhan atlet yang kerap merasa kelelahan saat pertandingan, Broto mengungkapkan hal itu karena tekanan latihan yang cukup berat.
"Mental kita tidak seperti China, yang sejak lahir sudah ditanamkan jiwa fight-nya. Kita tidak bisa seperti itu, ditekan sedikit lembek," tutur Broto.
Lebih lanjut Broto menegaskan, PB-PBSI dan pihak-pihak yang terkait dengan dunia bulutangkis nasional perlu memperhatikan berbagai hal mengenai sistem pelatihan guna perbaikan prestasi atlet di semua sektor, terutama tunggal putri yang kini mengalami kemandekan.
"Banyak hal yang perlu diperhatikan. Dulu hingga sekarang itu beda. Dasar kualitas dari pemain itu penting. Susi dan Mia Audina itu memang sudah hebat," tandas Broto.[yob]

0 komentar: